Service AC Mobil Daihatsu Luxio di Jakarta | Pengertian dan Proses Tune Up Mobil


Tune-up merupakan servis yang paling sering dilakukan dibandingkan dengan jenis servis mobil yang lain, seperti overhaul, spooring- balancing, dan kenteng magic (ketok magic). Tune-up merupakan servis yang bertujuan untuk mengembalikan tenaga motor agar sesuai dengan standarnya. Jadi, tune-up merupakan servis penting sebuah mobil sebelum servis lainnya.
Pekerjaan tune-up harus sesuai dengan prosedurnya. Tanpa mengikuti urutan yang benar, hasil tune-up tidak akan sempurna dan akan banyak mengalami terjadinya pengulangan pekerjaan. Ibarat orang membersihkan ruangan, langkah yang tepat adalah menyapu (membersihkan) bagian atas (langit-langit), kemudian membersihkan lantainya. Jika menyapu lantai terlebih dahulu, kemudian membersihkan langit-langit ruangan, lantainya harus disapu lagi. Ini jelas tidak efisien, baik tenaga, waktu, maupun hasil pekerjaan. Dengan prosedur tune-up yang benar, akan diperoleh beberapa keuntungan sebagai berikut.

  • Waktu yang diperlukan lebih cepat.
  • Tenaga yang dikeluarkan untuk menyervis lebih kecil.
  • Peralatan lebih awet karena frekuensi pemakaian alat berkurang.
  • Mobil lebih awet karena frekuensi bongkar-pasangnya relatif lebih kecil.
  • Peralatan yang Diperlukan
Dalam pengerjaan tune-up, sebaiknya sesedikit mungkin menggunakan alat. Persiapan alat yang berlebihan macam dan jumlahnya, tetapi tidak digunakan, menandakan kurangnya pemahaman terhadap mesin. Alat yang diperlukan dalam tune-up sebagai berikut.
  • Kunci pas.
  • Kunci ring.
  • Obeng positif dan negatif.
  • Feeler gauge (pengukur celah).
  • Ampelas (ambril)
  • Timing- light
  • Engine analyzer atau Tes kompresi.
  • Kain lap.
Namun, jika peralatan tersebut telah tersedia di dalam kotak peralatan (toolbox), tentu tidak ada salahnya disiapkan satu kotak tersebut. Kotak alat sebaiknya ditaruh di atas meja atau kursi, tidak ditaruh di lantai karena dalam pekerjaan tune-up lebih banyak dilakukan dengan berdiri dari pada duduk atau berbaring. Meletakkan kotak alat di atas meja atau kursi akan memudahkan dalam memilih dan mengambil alat yang akan digunakan. Karena tidak semua kunci diperlukan, siapkan beberapa kunci dan taruh di luar kotak, tetapi di atas kursi atau meja tersebut. Hitunglah jumlah kunci di dalam kotak untuk mencegah kemungkinan kunci tidak diketahui tertinggal di dalam mesin atau dekat mesin. Peralatan yang kemungkinan besar bisa tertinggal di dalam atau di dekat mesin adalah peralatan kecil, seperti feeler gauge, kunci pas, kunci ring, obeng, ampelas, kain lap, dan kabel-kabel. Peralatan yang tertinggal di dalam atau di dekat mesin dapat menimbulkan bahaya kebakaran dan kerusakan mesin, bahkan bisa membahayakan keselamatan penumpang. Contoh kasus akibat tertinggalnya peralatan di dalam mesin atau di dekat mesin mobil sebagai berikut.
  • Kunci pas menghubungkan kutub positif dengan kutub negatif accu dapat menyebabkan kebakaran.
  • Kabel tersangkut di daun kipas radiator sehingga daun kipas patah.
Selain menghitung jumlah peralatan yang digunakan, perlu diperiksa juga kondisi setiap peralatan secara teliti. Pastikan bahwa peralatan tersebut dalam keadaan baik. Kondisi alat yang dapat menimbulkan kecelakaan sebagai berikut.
  • Kunci yang retak.
  • Kabel terkelupas.
  • Obeng retak.

PENGERJAAN TUNE-UP

A. Memeriksa Air Radiator
Sebelum tune-up dimulai, terlebih dahulu air radiatornya kita periksa. Buka tutup radiator dengan cara diputar, kemudian lihat air radiator dari lubang pengisian air. Jika jumlah air radiatornya kurang, tambahkan secukupnya dengan air yang bersih.
Volume air di radiator dikatakan cukup jika ketinggiannya mencapai batas bawah leher tutup radiator. Jangan menghidupkan mesin dalam keadaan air radiator kurang, karena, mesin akan menjadi sangat panas.
Waktu memeriksa air radiator, periksa juga kualitas airnya. Jika airnya kotor, sebaiknya diganti dengan yang baru. Jika airnya berminyak, berarti terjadi kebocoran oli yang menuju sistem pendinginan air. Periksa juga kemungkinan terjadinya kebocoran air pendingin dengan melihat ada tidaknya rembesan air di luar radiator.
B. Memeriksa Oli Mesin
Setelah memeriksa air radiator, tahap berikutnya adalah memeriksa oli mesin. Jika oli mesin diperiksa setelah tune-up selesai, hasil tune-up tidak akan maksimal karena kondisi oli mesin berpengaruh terhadap suhu kerja mesin. Selain itu, oli mesin juga berpengaruh terhadap bunyi mesin. Jika oli mesin sangat kotor, encer, atau kurang, bunyi mesin akan menjadi kasar. Hal ini akan berpengaruh terhadap putaran stasioner dan idel.
Pemeriksaan oli mesin meliputi volume oli dan kondisi oli. Volume oli harus memenuhi batas minimal yang ditentukan, jika Oli kurang, tambahkan dengan oli yang kekentalanya sama. Sebaiknya, oli yang ditambahkan tersebut mereknya sama, untuk menghindari reaksi kimia yang dapat merugikan kondisi dan kerja mesin.



Dilihat dari bahan bakunnya, oli pelumas ada 2 macam, yaitu :
  • Oli MineralOli mineral dibuat dari bahan crude oli yang mengandung bahan hidro karbon dan parafin yang cukup tinggi.
  • Oli Sintetis
Oli Sintetis merupakan hasil dari perpaduan beberapa senyawa kimia. Oli sintetis lebih baik daripada oli mineral karena bisa tahan bekerja pada suhu rendah dan suhu tinggi.
C. Kondisi Visual Mesin
Selesai memeriksa oli mesin, jangan langsung menghidupkan mesin. Amati dengan teliti kondisi visual mesin. Pastikan bahwa mesin benar-benar aman untuk dihidupkan.
Memeriksa kondisi mesin secara visual termasuk tindakan pencegahan kecelakaan yang harus dilakukan sebelum tune-up. Mesin dikatakan aman untuk dihidupkan jika pemeriksaan mesin menunjukkan hasil sebagai berikut.
  1. Tidak ada kabel yang tersangkut.
  2. Tidak ada kabel busi yang tidak terpasang.
  3. Pemasangan kabel-kabel busi sudah benar sesuai dengan urutan pengapiannya.
  4. Tidak ada peralatan apa pun yang terletak di atas mesin.
  5. Baut dan mur terpasang dengan baik.
  6. Tidak terdapat kebocoran bensin pada mesin.
  7. Tidak ada kabel yang mengalami hubungan singkat.
  8. Oli mesin dan air radiator cukup.
D. Menghidupkan Mesin
Setelah mesin siap dihidupkan dan aman dari kemungkinan adanya bahaya, hidupkan mesin pada putaran stasioner, beberapa menit kemudian tambahkan putarannya jika diperlukan. Jangan menghidupkan mesin langsung pada putaran tinggi, karena pelumasan belum sampai ke seluruh komponen mesin, untuk mencegah keausan pada komponen. Untuk keperluan menganalisis kerusakan mesin, selama mesin hidup perhatikan tiga hal sebagai berikut.
a. Bunyi Mesin
Bunyi mesin yang bisa timbul saat menghidupkan mesin sebagai berikut.
  • Ledakan akibat Pembakaran
Ledakan akibat pembakaran bahan bakar (bensin atau solar) menimbulkan bunyi yang khas. Pada mesin yang pembakarannya normal, bunyi ledakannya rata. Pada mesin yang pembakarannya tidak normal, bunyi ledakannya tidak rata, terjadi entakan setiap beberapa detik. Jika bunyi tersebut tidak disalurkan lewat knalpot, akan terdengar sangat keras dan memekakkan telinga.
Bunyi mesin berbahan bakar bensin lebih halus dibandingkan dengan mesin berbahan bakar solar atau  diesel.
  • Getaran Komponen
Mengetahui ciri-ciri bunyi berbagai mesin akan mempermudah dalam menentukan kerusakannya. Bunyi yang ditimbulkan oleh getaran komponen mesin merupakan bunyi yang tidak normal. Getaran tersebut bisa terjadi karena baut atau mur yang longgar, komponen retak, atau patah. Bunyi-bunyi akibat getaran mesin berbeda sekali dengan bunyi akibat pembakaran bahan bakar.
  • Gesekan
Gesekan komponen yang tidak dilumasi dengan oli, bisa menimbulkan bunyi yang tidak nyaman. Bunyi akibat gesekan bisa timbul pada tuas sistem kawat gas karburator yang tidak dilumasi dengan baik, gesekan piston dengan dinding silinder, atau gesekan pada lakher.
  • Aliran Gas
Aliran gas yang bocor bisa menimbulkan bunyi yang tidak normal, seperti terjadinya kebocoran pada saluran gas masuk dalam silinder (intake manifold). Bunyi tersebut berupa desis yang keras.
  • Ketukan (knocking)
Bunyi yang diakibatkan oleh adanya ketukan dua komponen mesin yang cukup keras, biasanya terjadi di daerah sebagai berikut.
  1. Celah katup yang terlalu besar.
  2. Bantalan poros engkol longgar.
  3. Piston kocak.
  4. Pen piston longgar.
  5. Poros nok kocak.
  • Loncatan Bunga Api
Loncatan listrik tegangan tinggi bisa menimbulkan bunyi khas. Bunyi tersebut bisa mirip suara seekor cicak berdecak. Penyebab loncatan bunga api listrik adalah kebocoran arus atau hubungan singkat.
  • Tekanan Gas
Bunyi yang disebabkan oleh tekanan gas yang bocor hampir sama dengan kebocoran aliran gas masuk. Kebocoran gas disebabkan oleh sekat yang kurang rapat. Bunyi mesin harus didengarkan dengan saksama untuk mencari penyebab kerusakan mesin. Karena itu, bandingkan bunyi mesin sebelum dan setelah tune-up.
b. Getaran Mesin
Perhatikan getaran selama mesin hidup pada putaran stasioner. Mesin yang normal tidak memiliki getaran yang kasar. Jika diamati, pada waktu mesin dinyalakan, bodi mesin tersebut tidak bergetar kecuali kabel-kabel businya yang sedikit bergetar. Jika getaran mesin agak kasar, berarti terdapat gangguan pada proses pembakaran atau komponen-komponennya. Getaran yang kasar disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
  • Tekanan kompresi tidak sama antara masing-masing silinder.
  • Tekanan kompresi di atas standarnya.
  • Pembakaran pada salah satu silinder tidak normal.
  • Salah satu busi mati.
  • Salah satu kabel busi lepas.
  • Pemasangan kabel busi tidak sesuai urutan pengapiannya.
  • Terdapat komponen-komponen yang kocak atau kendor baut-bautnya.
c. Asap Knalpot
Setelah bunyi mesin dan getarannya diamati, selanjutnya perhatikan dengan teliti bentuk dan warna asap sisa pembakaran yang keluar dari knalpot. Asap yang keluar dari knalpot merupakan petunjuk baik tidaknya proses pembakaran bahan bakar mesin tersebut.
Ada empat warna asap knalpot yang dapat dijadikan petunjuk baik tidaknya proses pembakaran dalam mesin sebagai berikut.
  • Warna Asap Hitam
Warna asap hitam pada mesin diesel merupakan sesuatu  yang wajar. Namun, warna asap hitam pada mesin bensin merupakan pertanda adanya pembakaran yang tidak sempurna karena kelebihan bensin pada campuran gas dan bensinnya. Ukuran standar yang digunakan sebagai pembanding warna asap dikatakan hitam atau normal adalah asap mesin dalam kondisi normal.
  • Warna Asap Putih
Asap mesin 2 tak yang normal berwarna putih. Berbeda dengan mesin 4 tak, jika asap mesin 4 tak berwarna putih berarti terdapat kerusakan atau gangguan pada mesin tersebut. Warna putih disebabkan asap dari oli yang terbakar. Pada mesin 2 tak, oli memang terbakar bersama bensin. Namun pada mesin 4 tak, oli tidak terbakar, kecuali terdapat kebocoran oli dari karter ke ruang bakar.
  • Asap Tak Berwarna
Asap mesin 4 tak yang baik adalah yang tidak berwarna. Warna asap seperti ini menandakan campuran gas normal, tidak kelebihan bensin, tidak bercampur dengan oli, dan tidak kekurangan bensin.
  • Asap Knalpot Berjelaga
Jelaga pada asap mesin, baik itu mesin 2 tak maupun 4 tak, disebabkan adanya kandungan minyak tanah di dalam bensin. Jika asap yang dihasilkan berjelaga, bunyi mesin pasti tidak normal (kasar) dan elektroda businya hitam.

Urutan Pengerjaan Tune-Up

Setelah mesin dianalisis kerusakannya, pekerjaan tune up bisa dimulai. Pengerjaan tune up harus berurut. Tujuannya, agar tidak terjadi pengulangan pekerjaan karena servis komponen tertentu berpengaruh terhadap komponen yang lain.
a. Saringan Udara (Air Filter)
Saringan udara terlebih dahulu harus diservis dibandingkan dengan komponen yang lain, karena saringan udara merupakan komponen mesin yang paling dingin dibandingkan dengan komponen yang lain setelah mesin dihidupkan. Selain itu saringan udara juga berpengaruh terhadap komponen lain jika diservis belakangan, seperti terhadap pembentukan campuran udara dan bensin di saluran pada intake manifold (saluran pemasukan gas).
Saringan udara atau lebih populer dengan sebutan filter terletak di dalam kotak berbentuk lingkaran yang menyerupai piring. Kotak tersebut terbuat dari pelat besi biasa. Saat pengapian, putaran stasioner sangat dipengaruhi oleh saringan udara. Penyetelan idel juga dipengaruhi oleh saringan udara.
b. Platina
Setelah saringan udara dibersihkan atau diganti, komponen berikutnya yang harus diservis adalah platina. Platina terletak di dalam distributor. Platina perlu diperiksa atau diservis terlebih dahulu sebelum menyetel saat pengapian dan putaran stasioner. Jika platina disetel setelah penyetelan saat pengapian dan putaran stasioner, akan terjadi pengulangan kerja. Setelah platina dibersihkan dan dipasang, saat pengapian pasti berubah, karena saat pengapian dipengaruhi oleh celah platina. Jika celah platina lebih besar, saat pengapian akan maju sedikit. Sebaliknya, jika celah platina lebih sempit, saat pengapian akan mundur.
Putaran stasioner juga dipengaruhi oleh celah platina. Jika celah platina lebih besar, putaran stasioner akan turun. Sebaliknya, jika celah platina semakin kecil, putaran stasioner akan naik sedikit. Meskipun perubahan putaran stasioner tersebut tidak begitu besar, perlu diperhatikan untuk ketelitian hasil servis. Kondisi permukaan kontak platina sangat berpengaruh terhadap putaran stasioner dan bunyi mesin. Jika permukaan platina kotor, putaran stasioner akan turun. Namun, jika permukaan platina dibersihkan, putaran stasioner akan naik. Karena itu, tidak tepat jika platina diservis setelah penyetelan putaran stasioner dan campuran gas.
Setelah perbaikan platina selesai, pasanglah platina dengan benar. Perhatikan kabel yang bisa menyebabkan hubungan singkat dengan bodi mesin. Hubungan singkat dengan bodi mesin mengakibatkan tidak terjadinya loncatan bunga api pada busi. Apabila mobil sudah menggunakan CDI maka tidak perlu melewati tahapan ini.
c. Kabel Busi
Setelah platina diservis, tutup distributor tidak perlu segera dipasang. Periksa kondisi tutup distributor beserta kabel-kabelnya. Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah menyervis platina dengan tujuan untuk efisiensi kerja.
Kondisi mesin dipengaruhi oleh kualitas pengapiannya. Kualitas pengapian dipengaruhi oleh nyala api busi dan kabel¬kabel businya. Namun, kabel busi harus diperiksa atau diservis terlebih dahulu daripada businya, karena kabel busi merupakan pengantar untuk lewatnya arus tegangan tinggi ke busi. Nyala api busi sangat dipengaruhi oleh kondisi kabel-kabel businya.
Kabel busi tidak boleh diganti dengan kabel yang sembarangan kualitasnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari hambatan yang besar pada busi. Isolasi kabel busi harus memenuhi syarat, karena listrik yang dialirkan bertegangan tinggi (15.000-20.000 volt). Isolasi kabel busi yang sudah usang harus diganti kabelnya. Penggantian kabel busi sebaiknya satu unit, dengan harga yang bermacam¬macam. Umumnya, semakin mahal harganya, semakin baik kualitasnya.
Kabel busi yang retak isolatornya atau telah usang menyebabkan timbulnya crossfire, yakni induksi pada kabel busi yang berdekatan, sehingga busi yang kabelnya terkena induksi meloncatkan bunga api liar dan menyebabkan kerja mesin terganggu. Cross fire menyebabkan bunyi mesin kasar dan tenaga mesin menjadi turun. Untuk mengecek kabel busi biasanya besarnya tahanan diukur menggunakan Ohm meter, jika besarnya tahanan tidak sesuai dengan standartnya maka kabel busi diganti dengan yang baik.
d. Tutup Distributor
Tutup distributor sebaiknya diperiksa kondisinya bersamaan dengan pemeriksaan kabel-kabel busi dan servis platina. Hal ini dimaksudkan untuk meng¬hemat waktu kerja. Jika pemeriksa¬an tutup ditributor dilakukan se¬telah mesin dihidupkan, akan mengulangi pekerjaan melepas dan mencabut kabel busi dan tutup dis¬tributor.
Tutup distributor dinyatakan baik jika kondisinya sebagai berikut.
  • Tidak retak.
  • Arang pada tutup distributor yang berfungsi meng¬alirkan listrik tegangan tinggi tidak aus.
  • Bisa menutup dengan rapat.
Ada model tutup distributor yang dilengkapi lubang ventilasi di bagian atas tutup tersebut. Fungsi lubang ventilasi tersebut adalah untuk penguapan air yang terjebak di dalam tutup distributor. Dengan adanya ventilasi tersebut, uap air bisa keluar sehingga distributor tetap kering. 
e. Accu
Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan accu. Pemeriksaan accu meliputi sebagai berikut.
  •  Tinggi Air Accu
Air accu harus cukup, yakni ketinggiannya antara garis batas atas (upper level) dan garis batas bawah (lower level). Jika air accu jumlahnya kurang, tambahkan dengan accu zur secukupnya. Ketinggian air accu pada prinsipnya adalah merendam seluruh sel-sel accu sekurang-kurangnya 1 cm di atas sel-sel accu tersebut.
Jika mobil menggunakan accu kering, perawatannya menjadi lebih mudah karena tidak memerlukan air accu yang bisa berkurang karena penguapan. Kutub-kutub accu juga harus bersih, tidak kotor oleh jamur atau sejenisnya. Namun, harga accu kering lebih mahal sehingga masih banyak mobil yang menggunakan accu basah. Air accu yang kurang (di bawah standar) berakibat reaksi pada accu tidak maksimal, sehingga arus yang dihasilkannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik pada mobil.
  • Bersihkan Kutub-kutub Accu dari Jamur dan Karat
Jamur pada kutub-kutub accu bisa dibersihkan dengan air hangat, sedangkan karat yang mengotori kutub-kutub accu harus dibersihkan dengan ampelas.
 Bagian yang nampaknya remeh, tetapi sangat penting, adalah klem atau penjepit kabel accu dengan kutub- kutubnya. Klem tersebut mudah sekali kendor. Jika klem kendor, mesin akan mati karena busi tidak melon¬catkan bunga api. Untuk merawat klem agar tetap berfungsi dengan baik, ke¬raskan baut pengikatnya dan gunakan klem yang berkualitas baik. Kutub-kutub accu yang kotor atau berkarat menyebabkan tahanan sangat besar. Akibatnya, arus yang mengalir menjadi berkurang (kecil) sehingga tenaga mesin menjadi berkurang, bahkan mesin tak bisa dihidupkan.
Pada pemeriksaan pengapian, umumnya accu diperiksa paling akhir, itu pun kalau bunga api yang keluar dari busi sangat kecil dan bagian pengapian lainnya telah diservis.
f. Busi
Busi sebaiknya diperiksa setelah pengukuran tekanan kompresi atau sebelum penyetelan celah katup. Alasannya, pada pengukuran tekanan kompresi maupun penyetelan celah katup busi dalam keadaan tidak terpasang, bisa menghasilkan efisiensi kerja yang optimal. Saat pengukuran kompresi, busi harus dilepaskan karena lubang busi digunakan untuk memasukkan ujung alat pengukur tekanan kompresi. Pada penyetelan celah katup, busi sebaiknya dalam keadaan tidak terpasang agar mesin ringan saat diputar.
Bagian busi yang perlu diperiksa adalah elektrodanya, yang meliputi kebersihan dan celah elektrodanya. Elektroda yang kotor harus diampelas dengan ampelas besi dan elektroda positif dan elektroda negatif tidak boleh berhubungan. Karena itu, harus disetel celahnya. Adanya kotoran pada kedua elektroda busi bisa mengakibatkan terhalangnya jalan loncatan bunga api listrik.
Setelah elektrodanya dibersihkan dengan ampelas, pada elektroda busi perhatikan hal-hal sebagai berikut.
  • Jika terdapat lingkaran berwarna agak biru antara elektroda tengah dengan insulatornya, berarti tipe busi yang digunakan cocok.
  • Jika insulatornya agak hitam dan elektrodanya berwarna biru, berarti tipe businya terlalu dingin.
  • Jika insulatornya berwarna putih dan terjadi erosi pada elektrodanya, berarti tipe businya terlalu panas.
Ada tiga tipe busi, yaitu busi panas, sedang, dan dingin. Busi tipe panas kurang tahan terhadap panas, tipe dingin tahan terhadap panas. Busi panas cocok untuk perjalanan jauh.
g. Menyetel Celah Katup
Langkah paling tepat begitu selesai menyervis busi adalah menyetel celah katup. Selama penyetelan celah katup, busi tidak perlu dipasang di lubangnya. Biarkan mesin tanpa busi untuk sementara, hingga penyetelan katup selesai.
Penyetelan celah katup dalam keadaan mesin tanpa busi akan memperoleh keuntungan sebagai berikut.
  • Mesin akan lebih ringan diputar saat mencari posisi top kompresi masing-masing silinder.
  • Mempermudah dalam memeriksa posisi piston, yakni sudah mencapai titik puncaknya atau belum.
  • Lebih aman, karena mesin tidak mungkin berputar (hidup) tanpa busi.
1. Syarat Penyetelan Katup
Agar penyetelan katup berhasil dengan baik, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
  • Penyetelan dilakukan ketika katup menutup rapat.
  • Penyetelan dilakukan ketika celah katup paling besar.
  • Penyetelan katup dapat berhasil dengan baik jika proses kerja mesin (gerak naik-turun piston) sesuai dengan gerak katup-katupnya.
2. Cara Penyetelan
Ada dua cara penyetelan untuk memenuhi syarat-syarat agar penyetelan katup berhasil dengan baik, yaitu sebagai berikut.
  • Dengan memutar poros engkol (pub), untuk membuat piston berada di posisi top kompresi masing-masing silinder. Cara ini banyak membutuhkan tenaga dan waktu, karena harus memutar pull sesuai dengan banyaknya silinder sampai mendapatkan posisi piston pada top silinder 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Saat posisi top kompresi, kedua katup iNdan EX harus dalam keadaan menutup rapat, sehingga bisa disetel celahnya.
  • Dengan memutar poros engkol (pub), untuk membuat piston pada posisi top kompresi silinder 1 dan silinder lain yang diperlukan sesuai dengan proses kerja mesin. Cara ini lebih cepat dan menghemat dengan tenaga, tetapi memerlukan pengetahuan teknik mobil yang cukup, khususnya hubungan antara urutan pengapian (FO = firing order) dan penyetelan katup.
h. Positive Crank Case Ventilation (PCV)
PCV adalah sistem ventilasi ruang engkol. Uap bensin yang bocor ke dalam ruang engkol dialirkan kembali ke ruang bakar mesin melalui sebuah selang yang menghubungkan ruang engkol ke intake manifold
Setelah penyetelan katup, sebaiknya PCV diservis terlebih dahulu sebelum .tes kompresi. PCV sedikit berpengaruh terhadap tekanan kompresi dan putaran mesin. Tanpa PCV putaran mesin lebih rendah dibandingkan dengan ketika PCVdiaktifl<an.
Dalam servis PCV, yang perlu diperiksa adalah kerja katup PCV dan kerapatan selang-selangnya. Katup PCV yang telah rusak sebaiknya diganti dengan yang baru.
i. Saat Pengapian
Saat pengapian sebaiknya disetel setelah penyetelan putaran mesin. Alasannya, karena saat pengapian yang tercantum dalam buku pedoman servis mobil adalah saat pengapian pada putaran stasioner. Jika saat pengapiannya disetel pada putaran tidak stasioner, akan terjadi pengulangan kerja. Hal ini sebenarnya bisa dihindari, karena begitu pu¬taran mesin disetel, saat penga¬t,piannya pasti berubah.
Prinsip penyetelan saat pengapian adalah memutar dis¬tributor dalam keadaan mesin hidup sampai memperoleh bunyi mesin yang paling halus dengan tenaga yang paling besar. Prinsip penyetelan ini bisa dijadikan pedoman, jika penyetelan saat pengapian dilakukan tanpa menggunakan timing- light (penyetelan perigapian) atau alat bantu lainnya.
Distributor dapat diputar ke kiri atau ke kanan setelah baut pengikatnya dikendorkan. Jika distributor diputar berlawanan arah dengan putaran rotor, berarti saat pengapiannya dimajukan. Sebaliknya, jika distributor diputar searah dengan putaran rotor, berarti saat pengapian dimundurkan.
j. Idel
Penyetelan idel merupakan penyetelan yang paling akhir dalam tune-up mesin mobil. Hasil penyetelan idel tidak berpengaruh terhadap saat pengapian, celah katup, kompresi, dan pendinginan. Sebaliknya, idel sangat dipengaruhi oleh berbagai komponen mesin.
Menyetel idel pada prinsipnya adalah menyetel campuran antara udara dengan bensin pada putaran idling. Jadi sebelum menyetel campuran idel, putaran mesinnya harus stasioner terlebih dahulu. Jika setelah penyetelan idel, kemudian putaran stasionernya berubah, putaran stasionernya harus disetel ulang. 
k. Tali Kipas
Dalam tune up, tali kipas juga harus disetel. Kekencangan tali kipas berpengaruh terhadap pendinginan dan putar¬an alternator. Jika tali kipas kendor, putaran mesin tidak bisa memu-tar kipas pendingin de¬ngan baik karena selip.
Akibatnya, pendinginan oleh kipas tidak sesuai dengan putaran mesin sehingga mesin menjadi panas. Selain itu, putaran alternator juga tidak bisa maksimum sehingga pengisian ke baterai kurang baik.

Setelah tune-up selesai dan mesin akan dihidupkan, perhatikan seluruh komponen mesin sudah terpasang di tempatnya dengan benar atau belum. Jika semua komponen telah terpasang dengan benar, hidupkan mesin pada ifputaran stasioner beberapa menit. Selama mesin berputar stasioner, dengarkan bunyi normal, naikkan putaran mesin perlahan-lahan sambil perhatikan bunyi mesin, getaran, dan asap knalpotnya. Jika sudah yakin tidak terdapat gangguan atau ketidaknormalan pada mesin, berarti tune-up telah selesai.


Service AC Mobil Daihatsu Grandmax di Jakarta | Kerusakan Pada sistem Ac Dan Cara Mengatasnya


Sama dengan unit pendingin lainnya, dalam sistem AC mobil terdiri atas beberapa bagian dan komponen (parts) yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Oleh sebab itu, jika salah satu bagian ada yang rusak, akan berpengaruh pada bagian yang lain. Misalnya, saat kita mengendarai mobil dan menyalakan AC, embusan angin dari blower  dirasakan cukup kencang dan settingan temperatur pada posisi  paling dingin, tetapi masih terasa panas dan gerah atau terdengar suara berisik dari dalam mesin. Dari kasus tersebut, kemungkinan besar ada masalah pada sistem AC mobil. Nah, untuk itu perlu dilakukan pengecekan pada komponen dan bagian-bagian sistem AC.
Namun sebelum melakukan pengecekan pada sistem AC  mobil, pastikan kondisi mesin mobil dalam keadaan prima atau normal. Sebab, bisa saja masalah yang terjadi bukan pada sistem AC, tetapi disebabkan kondisi mobil itu sendiri. Misalnya saat menyalakan AC, setelah beberapa lama mengendarainya tiba-tiba jarum indikator suhu mesin melonjak naik dan mesin menjadi sangat panas hingga terjadi overheating. Namun setelah  AC dimatikan, suhu mesin kembali turun. Nah, dengan kasus tersebut, yang pertama perlu diperiksa adalah kondisi pendinginan mesin (radiator), apakah salurannya ada yang mampet atau air pendingin radiator berkurang karena ada kebocoran.

A.      Kerusakan  Umum
a.       Switch A/C ON, tetapi Blower Tidak Bekerja
 Jika anda menemukan kasus seperti ini, lakukan langkah-langkah berikut.
  1. Periksa komponen motor blower evaporator . Jika motor blower  tidak bekerja, segera perbaiki atau ganti motor blower.
  2. Periksa aliran listrik yang menuju blower evaporator. Segera perbaiki jika terdapat kabel putus, switch blower yang rusak, socket kendor, atau relay rusak.
  3. Jika switch A/C ON dan switch blower diposisikan pada salah satu tingkat kecepatan (low,ned, hi atau 1,2,3), dapat dipastikan kondisi switch blower rusak.
  4. Periksa sekering pada motor blower menggunakan multitester . Perbaiki bagian sekring yang putus atau ganti dengan yang baru.
  5. Periksa relay motor blower menggunakan multitester pada bagian terminalnya. Ganti relay jika rusak.


b.      AC Bekerja, tetapi Tidak Dingin
Seringkali kita menemukan kasus AC mobil yang tidak dingin, padahal sistem AC bekerja. AC yang tidak dingin dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranyakerusakan pada sekring, kompresor, evaporator, magnetic cluth, dan tersumbatnya filter dryer. Untuk mengatasinya, lakukan langkah-langkah berikut.
  1. Periksa sekring (fuse)
  2. Periksa tekanan refrigerant , apakah ada kebocoran refrigerant. Cari lokasi kebocoran dan perbaiki. Setelah itu, lakukan vacuum, tambah oli pelumas, dan isi kembali dengan refrigerant baru.
  3. Periksa kompresor. Perbaiki atau ganti kompresor jika rusak.
  4. Bersihkan evaporator dari kotoran, sebab dapat menyebabkan pembekuan pada evaporator. Setelah itu, periksa kondisi thermostat dan thermistor. Ganti thermostat dan thermistor jika rusak.
  5. Periksa kondisi magnetic cluth. Kerusakan magnetic cluth dapat menyebabkan AC tidak dingin. Perbaiki atau ganti jika rusak.
  6. Filter Dryer tersumbat. Caranya, bersihkan dengan cara meniupnya. Ganti filter dryer dengan yang baru.
  7. Pressure switch tidak normal. Periksa kondisi pressure switch apakah masih bekerja dengan baik atau tidak. Segera ganti jika rusak.
  8. Blower tidak berputar, sehingga sirkulasi udara kabin dari evaporator  tidak sempurna. Periksa kondisi motor blower, apakah masih bekerja dengan baik atau tidak. Perbaiki jika rusak.

B.      AC Mobil Kurang Dingin
AC mobil yang kurang dingin disebabkan oleh beberapa hal, seperti masalah pada thermostat, evaporator, kondensor, dan adanya kebocoran. Berikut langkah-langkah pengecekan pada Ac mobil yang kurang dingin.
  1. Periksa stelan dan kondisi thermistor atau thermostat. Apakah masih bekerja dengan baik atau tidak. Jika tidak, lakukan penggantian.
  2. Bersihkan evaporator dari kotoran yang menenmpel.
  3. Kondensor tertutup benda lain, misalnya plastik yang menempel di permukaannya, sehingga kondensor  tidak mampu melepaskan panas refrigerant dari kompresor. Bersihkan kotoran dan benda lain yang menempel. Jika diperlukan, beri kipas tambahan untuk proses pendinginan.
  4. Terdapat celah dan kerusakan isolasi di sekitar kabin, sehingga udara dari luar ikut masuk dan bercampur dengan udara dingin dalam kabin.
a.       Angin Tidak Berembus dari Grill Kabin
Ketika dinyalakan, AC mobil yang normal akan mengembuskan udara dingin dari grill kabin. Jika tidak, berarti terdapat maslah pada beberapa komponen, seperti blower, sistem kelistrikan, dan relay motor blower. Berikut langkah-langkah pengecekannya.
  1. Saat mesin mati, periksa kelancaran putaran blower dengan menggunakan tangan. Jika putaran tidak lancar, segera periksa kondisi bearing motor blower dan ganti jika rusak.
  2. Periksa kabel-kabel, sekring, socket kabel, dan konektor kelistrikan blower. Perbaiki  jika ada yang kendor, rusak, dan putus.
  3. Periksa switch blower. Ganti jika relay sudah rusak.
  4. Jika langkah diatas sudah dilakukan dan masih dalam kondisi baik, segera periksa kondisi motor  blower. Perbaiki atau ganti jika perlu.
b.      Kecepatan Putaran Blower Tidak dapat Diubah
Untuk mendapatkan kenyamanan, terkadang kita perlu mengatur kecepatan putaran blower (Low, Medium, High). Namun, jika putaran blower  tidak dapat di ubah, berarti terdapat masalah pada beberapa komponen, terutama pada switch blower dan sistem kelistrikan. Berikut langkah-langkah pemeriksaannya.
  1. Periksa switch blower satu per satu dengan cara memindahkan switch pada tingkatan yang berbeda(blower off) atau kecepatan embusan angin tidak berubah, segera ganti switch blower.
  2. Cek kabel-kabel, sekering, socket kabel , dan konektor kelistrikan blower . Perbaiki jika ada yang kendor, rusak, atau terputus.
c.       Kipas Kondensor (Ekstra Fan) Tidak bekerja
Jika kondensor yang tidak bekerja dapat mengakibatkan sistem AC tidak normal atau dingin. Sebab, panas yang dilepaskan kondensor  dengan bantuan extra fan menjadi tidak maksimal. Terlebih jika kendaraan berhenti atau  saat terjebak kemacetan, meskipun saat melaju, kondensor mendapatkan sirkulasi angin dari depan. Oleh sebab itu, agar sistem AC dapat bekerja maksimal perlu kipas kondensor yang baik. Berikut penanganan kipas kondensor yang tidak bekerja.
  1. Saat mesin mati, periksa kelancaran putaran kipas menggunakan tangan. Jika dirasakan tidak lancar atau seret,  langkah selanjutnya adalah memeriksa kondisi bearing motor kipas. Ganti jika sudah rusak.
  2. Periksa kabel-kabel, sekring, socket kabel, dan konektor kelistrikan blower. Perbaiki jika ada yang kendor, rusak, atau putus.
  3. Periksa relay motor kipas, ganti jika  relay sudah rusak.
  4. Jika semua pemeriksaan telah dilakukan, langkah terakhir adalah mengecek kondisi motor kipas.
d.      Air Menetes dari Bagian Bawah Kendaraan
Saat kita menemukan tetesan air pada lantai, ini merupakan hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Air tetesan ini merupakan indikator bahwa AC mobil bekerja dengan baik. Air yang menetes terjadi dari pengembunan udara dalam kabin mobil saat melewati evaporator. Pada bagian evaporator inilah udara menjadi embun lama-kelamaan semakin banyak. Oleh  sebab itu, dibagian bawah evaporator dibuat bak penampung air. Karena air makin lama makin banyak, dibutuhkan saluran pembuangan air, sehingga jangan heran jika ada air yang menetes dari bawah kendaraan saat AC mobil dihidupkan.
e.      Air Menetes dari Bawah Dashboard
Seperti telah disebutkan sebelumnya, air yang menetes dari bagian bawah kendaraan adalah hal yang normal akibat proses pengembunan. Namun, berbeda jika air yang menetes berasal dari bagian bawah dashboard. Ini  merupakan m masalah serius, sebab akan mengganggu kenyaman pengendara .
Berikut langkah-langkah pemeriksaan dan cara perbaikannya.
  1. Periksa saluran pembuangan air dari bak evaporator  (mungkin lepas, putus,  terimpit, atau melintir). Sebab, air hasil pengembunan evaporator tidak dapat dibuang keluar, sehingga akan meluber ke dalam kendaraan.
  2. Periksa dan bersihkan bagian bak penampung dan saluran pembuangan air. Debu dan kotoran yang berkumpul pada bagian evaporator dapat mengakibatkan penyumbatan.
  3. Periksa bagian keluarnya air. Ujung saluran air ini bisa tersumbat oleh lumpur, karena ujungnya berada di kolong mobil. Segera bersihkan jika ada kotoran yang menyumbat.
f.        Bau Menyengat di Dalam Kabin
Kenyaman pengendara pasti sangat  terganggu jika mencium bau menyengat saat AC dinyalakan. Biasanya  bau tersebut terjadi akibatnya adanya bakteri, micro-organisme, dan jamur yang menumpuk di bagain evaporator atau filter AC. Selain itu, dapat juga terdapat pada grill di dashboard dan sekitar saluran masuk dan keluarnya udara. Untuk menghilangkan bau yang mengganggu ini, bersihkan bagian evaporator, filter,  grill, blower, atau sepanjang saluran masuk dan keluarnya udara. Jika perlu, bersihkan dengan menggunakan anti bactercial treatments.


B. Kerusakan pada Komponen
a. Kompresor
Seperti telah disebutkan sebelumnya, alat ini berfungsi menekan refrigerant ke kondensor, layaknya jantung pada manusia. Refrigerant yang seharusnya dipompakan ke semua komponen AC tiba-tiba bermasalah. Kerusakan pada kompresor ditandai dengan munculnya suara berisik saat AC dalam kondisi ON. Biasanya, kerusakan pada kompresor  akan menimbulkan beberapa masalah sebagai berikut.
  1. Gangguan pada magnetic clutch. Saat Ac tidak bekerja, otomatis kompresor juga tidak dapat bekerja, sebab daya dari mesin yang melalui pulley dan belt tidak dapat diteruskan ke kompresor. Jika yang terjadi sebaliknya, perlu dilakukan pemeriksaan tegangan baterai (bisa tegangannya kurang), stelan amplifier kurang tepat, masa (ground) yang kurang baik. Jika semua gangguan tersebut tidak terjadi,  dapat dipastikan magnetic clutch yang rusak.
  2. Suara dari sekitar kompresor tidak normal (timbul suara berisik). Periksa buat pengikat kompresor pada bracketnya atau baut pengikat bracket dengan mesin(bisa kendor), bearing idle pulley dn bearing idle pulley dan bearing magnetic clutch aus, dan baut-baut pengikat crank shaft puli kendor.
  3. Suara dari dalam kompresor tidak normal atau berisik. Ini dapat disebabkan bearing-bearing dalam kompresor  aus, minyak pelumas kurang, atau cleareance dari bagian yang bergerak melampaui batas standarnya. Perbaiki kompresor dan bagian-bagiannya, jika perlu lakukan overhaul kompresor
  4. Gasket dan seal kompresor rusak, sehingga mengakibatkan kebocoran refrigerant dan minyak pelumas. Jika ini terjadi, akanmenyebabkan kompresor cepat panas dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
b.       Kondensor
Kondensor merupakan alat pelepas panas pada sistem AC mobil, jika kondensor bermasalah dapat dipastikan proses pelepasan panas refrigerant dari kompresor akan terhambat, sehingga kerja AC tidak maksimal. Adapun masalah yang umum terjadi pada bagian kondensor sebagai berikut.
  1. Permukaan kondensor tertutup debu, sehingga proses pendinginan refrigerant pada  kondensor dengan air dan disikat dengan sikat halus, tetapi perlu hati-hati agar tidak merusak kondensor.
  2. Adanya kebocoran refrigerant pada bagian pipa sambungan diakibatkan oleh karat dan kotoran yang menempel. Bersihkan secara berkala dan perhatikan jika ada kebocoran pada sambungan pipa dan bagian lainnya.
  3. Motor kipas kondensor tidak berputar atau putarannya tidak normal. Lakukan perbaikan motor kipas hingga putarannya kembali normal.
c.      Katup Ekspansi
Dilihat dari fungsinya, katup ekspansi merupakan alat pengkabut  cairan refrigerant dari kondensor. Dengan tekanan yang sangat tinggi refrigerant disemprotkan oleh katup ekspansi sehingga menurunkan tekanan dan temperatur refrigerant pun menjadi dingin. Banyaknya cairan refrigerant yang dikabutkan oleh katup ekspansi tergantung dari sensor(bulb) yang berada di dalam evaporator, sehingga cairan yang dikabutkan selalu dalam kondisi standar sesuai kebutuhan pendinginan evaporator. Adapun masalah-masalah yang sering terjadi pada katup ekspansi sebagai berikut.
  1. Sensor(bulb) terlepas dari dudukannya, sehingga kerja katup ekspansi tidak normal. kemampuan pendinginan AC mobil.
  2. Lubang penyemprotan katup ekspansi terlalu renggang, sehingga cairan refrigerant yang dikabutkan terlalu banyak dan mengakibatkan tekanan refrigerant pada evaporator terlalu tinggi. Akibatnya kemampuan pendinginan AC mobil menjadi berkurang. Untuk mengatasinya, sebaiknya ganti katup ekspansi.
  3. Gas pada pipa sensor(capillary bulb) katup ekspansi bocor, sehingga sensor tidak dapat bekerja. Hal ini dapat mengakibatkan refrigerant yang dikabutkan ke evaporator menjadi berkurang, tekanan refrigerant di evaporator menjadi sangat rendah, dan menyebabkan kemampuan pendinginan AC  mobil berkurang. Agar kembali normal, sebaiknya ganti katup ekspansi.
  4. Lubang penyemprotan katup ekspansi yang berfungsi mengkabutkan refrigerant tersumbat, sehingga refrigerant tersumbat, sehingga refrigerant yang berhasil di kabutkan hanya sedikit. Ini akan berpengaruh terhadap kemampuan pendinginan. Selain itu, dapat menimbulkan bunga es (frozen) pada pipa cairan refrigerant sebelum masuk ke evaporator. Untuk mengatasinya, bersihkan katup ekspansi.
d.      Evaporator
Evaporator berfungsi menyerap panas dari  ruang kabin mobil yang melewatinya, sehingga udara yang keluar dari evaporator  terasa dingin. Jika evaporator bermasalah, kabin mobil tentu akan terasa panas atau tidak terasa sejuk. Berikut kerusakan yang sering terjadi pada bagian evaporator.
  1. Filter udara pada evaporator tersumbat oleh debu dan kotoran sehingga udara yang melewati evaporator tidak dapat bersikulasi dengan baik. Anda perlu membersihkan filter udara agar sirkulasi udara menjadi lancar.
  2. Sirip-sirip pipa evaporator terhalang oleh debu dan kotoran, sehingga proses penyerapan panas terganggu dan mengakibatkan udara  panas yang melewatinya tidak dapat diserap dengan baik. Bersihkan sirip-sirip pipa evaporator menggunakan angin dari kompresor .
  3. Terjadinya kebocoran pada pipa evaporator . Hal ini disebabkan kotoran yang menumpuk pada permukaannya, sehingga menyebabkan karat dan menimbulkan kebocoran. Untuk mengatasinya, lakukan penambalan pada bagian yang bocor. Jika kebocoran sudah terlalu besar sebaiknya evaporator  diganti.
e.        Receiver(Filter Dryer)
Receiver merupakan alat untuk memisahkan kadar air dan menyaring kotoran yang terbawa bersama refrigerant. Dapat dibayangkan jika receiver sudah terlampau kotor. Receiver akan tersumbat sehingga akan menghambat laju sirkulasi refrigerant. Ibarat darah yang tidak bersikulasi, akan sangat berbahaya bagi tubuh. Umumnya masalah yang terjadi pada receiver dalah sebagai berikut.
  1. Receiver tersumbat kotoran, indikasinya dapat diketahui dengan memegang  pipa masuk dan keluar receiver. Rasakan suhu yang terdapat pada pipa masuk dan keluar receiver, apakah ada perbedaan suhu atau tidak. Jika ada perbedaan suhu, dapat dipastikan receiver sudah kotor, sehingga receiver(filter dryer) perlu diganti.
  2. Batu silica receiver terlepas dari tempatnya, sehingga menutup saluran refrigerant dan menghambat aliran refrigerant. Batu silika pada receiver terbungkus dan berfungsi menyaring kotoran. Jika bungkus batu silica tersebut mengalami kebocoran, maka batu silika akan masuk kekomponen-komponen AC lainnya.
f.       Oli Kompresor
Oli kompresor merupakan cairan pelumas yang berfungsi melindungi bagian-bagian dalam kompresor, sehingga tidak cepat aus akibat gesekan. Dalam waktu tertentu, oli kompresor akan jenuh dan kehilangan sifat pelumasannya, sehingga perlu diganti dengan yang digunakan. Biasanya tiap-tiap kendaraan menggunakan jenis kompresor yang berbeda. Untuk mengetahuinya, dapat dilihat pada halaman lampiran. Namun,penggantian oli kompresor juga dapat disebabkan hal-hal berikut.
  1. Saat melakukan service besar(pemeliharaan rutin).
  2. Saat perbaikan salah satu komponen AC mobil, seperti kompresor, kondensor, dan evaporator.
g.      Magnetic Clutch
Magnetic clutch merupakan alat yang berfungsi meneruskan tenaga dari mesin. Tanpa adanya magnetic clutch atau kondisi magnetic clutch yang rusak, kompresor tidak dapat bekerja. Berikut beberapa masalah yang sering terjadi pada magnetic clutch dan cara mengatasinya.
  1. Saat AC dihidupkan, magnetic clutch terkadang slip, sehingga tidak mampu memutar kompresor. Periksa permukaan pressure plate-nya, apakah terdapat minyak atau benda lain yang menempel. Sebaiknya bersihkan permukaan pressure plate. Selain itu dapat juga disebabkan tegangan dari baterai ke magnetic clutch kurang. Periksa kabel-kabel dan saluran listrik dari baterai ke magnetic clutch. Charge baterai atau perbaiki sistem kelistrikannya.
  2. Saat AC dihidupkan, pressure plate tidak mau menempel. Periksa kondisi stator coil, apakah putus atau terbakar. Perbaiki atau ganti stator coil jika rusak atau terbakar. Periksa juga saluran kabel dari batterai yang menuju ke magnetic clutch apakah terdapat gangguan atau tidak. Selain itu periksa juga bagian switch ON/OFF dan thermostat AC. Langkah terakhir, periksa jarak atau kerenggangan antara rotor dan pressure plate. Perbaiki jika jaraknya terlalu renggang.
h.       Mengetahui Kerusakan Melalui Charging Manifold
Ibarat dokter yang menggunakan stetoskop untuk mendeteksi detak jantung, begitupula dengan teknisi Ac yang menggunakan charging manifold untuk mendeteksi tekanan refrigerant,sehingga dapat diketahui kondisi yang terjadi dalam sistem AC mobil. Sebelum melakukan pengecekan dengan charging manifold, panaskan mesin mobil terlebih dahulu, kemudian kondisikan mesin dan Ac sebagai berikut.
  • Putaran Mesin                                          : 1.500-2.000 rpm
  • Suhu Masuk Bblower Evaporator      : 30OC-35OC
  • Kecepatan Blower  Evaporator           : Maksimum (Hi)
  • Temperature Control                             : Maximum Cool
     
        a.       Kondisi Normal
AC mobil dapat dikatakan dalam kondisi  normal jika mampu menyejukkan ruangan(kabin) dan semua fiturnya dapat bekerja dengan baik. Kondisi AC yang normal dapat diketahui dengan menggunakan charging manifold, baik saat AC dalam keadaan ON maupun OFF.

  1. Tekanan charging manifold saat AC mobil ON, sebagai berikut.
  • Tekanan Rendah              : 21-35 Psi
  • Tekanan Tinggi                  : 196-224 Psi
  1. Tekanan charging manifold saat AC mobil OFF, sebagai berikut.
  • Tekanan Rendah              : 70-112 psi
  • Tekanan tinggi                   : 70-112 Psi
   
       b.      Refrigerant Kurang
Kurangnya refrigerant dapat disebabkan terjadinya kebocoran. Jika refrigerant kurang, kemampuan pendinginan AC pun menjadi berkurang. Berikut tekanan pada charging manifold saat AC mobil ON.
  • Tekanan Rendah              : 7-35 Psi atau mendekati 0 Psi.
  • Tekanan Tinggi                  : 196-224 Psi
Setelah diketahui tekanannya melalui charging manifold, lakukan pemeriksaan pada sight glass receiver, apakah terlihat gelembung-gelembung. Jika tidak, cari lokasi kebocoran refrigerant,lalu tambah refrigerant hingga tekanannya kembali normal.
       
             c.       Sirkulasi refrigerant Tersumbat
Sirkulasi refrigerant yang tersumbat dapat menyebabkan sistem AC mobil menjadi tidak dingin sama sekali. Berikut tekanan pada charging manifold saat AC mobil ON ketika sirkulasi refrigerant tersumbat.
  • Tekanan Rendah              : Di bawah 0 Psi (vacuum)
  • Tekanan Tinggi                  : 70-84 Psi

Jika sirkulasi tersumbat sebagian, tekanan refrigerant pada tekanan rendah (low) akan sangat rendah. Jika sirkulasi refrigerant betul-betul tersumbat, tekanan refrigerant pada tekanan rendah akan di bawah 0 Psi atau vacuum. Tersumbatnya sirkulasi refrigerant disebabkan serbuk atau dessicant pada receiver dryer yang hancur karena jenuh. Agar sirkulasinya berjalan dengan normal kembali, lakukan juga pemeriksaan pada receiver dryer, expansion valve, dan evaporator Pressure Regulator(EPR). Untuk memastikan bagian yang tersumbat, lakukan pemeriksaan dengan tangan , sehingga akan terasa perbedaan suhu antara pipa yang masuk dan keluar pada bagian AC tersebut. Lakukan proses vacuum setelah mengganti atau memperbaiki bagian komponen AC yang bermasalah.

 
              d.      Terdapat  Uap Air Pada Sirkulasi
Masalah uap air yang terdapat pada sirkulasi mengakibatkan kinerja AC mobil tidak stabil (kadang dingin dan kadang tidak). Penyebabnya adalah uap air yang berubah menjadi es hingga ke expansion valve. Cara mengatasinya, periksa expansion valve, kemudian ganti receiver dryer. Langkah terakhir adalan lakukan proses vacuum agar tidak terdapat udara dalam sistem AC mobil. Berikut tekanan charging manifold saat AC mobil ON ketika terdapat uap air pada sirkulasi.
  • Tekanan Rendah              : tidak stabil (terkadang normal dan dibawah normal)
  • Tekanan Tinggi                  : tidak stabil (terkadang normal dan dibawah normal)
          e.      Kompresi Kompresor Lemah
Kemampuan kompresi kompresor yang lemah atau rusak dapat menyebabkan kemampuan pendinginan AC menjadi berkurang, bahkan tidak dingin sama sekali. Ini dapat dilihat setelah AC dimatikan, tekanan rendah dan tekanan tinggi menjadi balance. Untuk menyakinkan adanya kerusakan, sentuh kompresor setelah dinyalakan. Jika tidak terasa panas, lakukan pemeriksaan dan perbaiki kerusakan kompresor. Berikut tekanan charging manifold saat AC mobil ON ketika kompresi kompresor lemah.
  • Tekanan Rendah              : 56-84 Psi
  • Tekanan Tinggi                  : 98-140 Psi
         f.        Refrigerant Terlalu Banyak atau Kondensor Kurang Pendinginan
Pengisian refrigerant yang terlalu banyak dan kondensor kurang pendinginan dapat menyebabkan kemampuan pendinginan AC mobil menjadi berkurang. Jumlah refrigerant yang berlebihan dapat mengakibatkan kompresor bersuara cukup keras. Jumlah refrigerant yang terlalu banyak atau kondensor kurang pendinginan, dapat diketahui dari tekanan charging manifold saat AC mobil ON sebagai berikut.
  • Tekanan Rendah              : 35-49 Psi
  • Tekanan Tinggi                  : 280-350 Psi

Sebenarnya kondisi seperti ini dapat berlangsung dirasakan , yaitu kabin mobil saat AC dinyalakan terasa kurang dingin. Setelah memeriksa tekanan dengan charging manifold, lakukan juga pemeriksaan pada sight glass receiver (biasanya tidak terlihat gelembung). Penyebabnya karena pengisian refrigerant terlalu banyak atau kondensor tidak dapat pendinginan yang cukup. Untuk mengatasinya, periksa dibersihkan sirip-sirip kondensor dari kotoran. Periksa juga sistem pendinginan kondensor, seperti kipas dan motor kipas,lakukan perbaikan jika ada yang rusak. Langkah terakhir, periksa kembali jumlah refrigerant, buang refrigerant jika terlalu banyak hingga mencapai tekanan standar.
            g.       Udara Masuk ke Bagian Sirkulasi
Udara yang masuk ke bagian sirkulasi akan menyebabkan kemampuan pendinginan AC mobil menjadi berkurang. Tekanan charging manifold saat AC mobil ON terlalu tinggi, sebagai berikut.
  • Tekanan Rendah             : 35-49 Psi
  • Tekanan Tinggi                 : 280-350 Psi

Setelah melakukan pemeriksaan tekanan, lakukan pemeriksaan visual pada sight glass receiver (biasanyaa terlihat gelembung). Setelah itu sentuh pipa tekanan rendah (pipa besar). Jika terasa panas, berarti ada udara yang masuk ke bagian sirkulasi. Penyebabnya adalah proses vacuum yang tidak sempurna. Untuk mengatasinya, keluarkan isi kembali refrigerant hingga tekanannya kembali normal. Untuk meyakinkan, lakukan pemeriksaan kebocoran pada seluruh sistem AC.

               h.      Katup Ekspansi Bermasalah
Katup ekspansi (ekspansion valve) yang bermasalah dapat menyebabkan kemampuan pendinginan AC mobil menjadi kurang. Tekanan charging manifold saat AC mobil ON terlau tinggi.
  • Tekanan Rendah              : 35-49 Psi
  • Tekanan Tinggi                  : 280-350 Psi

Lakukan juga pemeriksaan pada pipa tekanan rendah, apakah terdapat air pada permukaannya(frost). Biasanya masalah seperti ini terjadi setelah penggantian katup ekspansi, seperti pemasangan yang salah atau terjadi kerusakan pada expansion valve. Untuk mengatasinya, lakukan pemeriksaan pada sensor panas expansion valve. Setelah itu periksa juga pemasangan expansion valve, apakah sudah benar atau tidak.


Service AC Mobil Daihatsu All New Grand Livina di Jakarta | Perlu diketahui tentang BUSI


Mungkin Anda masih ragu untuk memilih/memakai Busi yang sesuai untuk mesin kendaraan Anda, mudah-mudahan uraian singkat di bawah ini dapat membantu..

Tegangan tinggi yang dihasilkan oleh koil pengapian, akan disalurkan melalui elektroda tengah dan elektroda massa busi berupa percikan bunga api.
Kemampuan dalam menghasilkan bunga api pada busi tergantung pada beberapa faktor sebagai berikut:

1. Bentuk Elektroda Busi
Permukaan elektroda busi yang sudah membulat (cembung/tidak rata) akan mempersulit loncatan bunga api, sedangkan bentuk persegi atau runcing dan tajam akan mempermudah loncatan api .
Elektroda tengah busi akan membulat/cembung setelah dipakai dalam waktu lama, oleh karena itu loncatan bunga api akan menjadi lemah dan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian, sebaliknya elektroda yang tipis atau tajam akan mempermudah percikan bunga api, akan tetapi umur penggunaannya menjadi pendek karena lebih cepat aus.

2. Celah/Gap Elektroda Busi
Bila celah/gap elektroda busi besar, bunga api akan menjadi sulit melompat dan tegangan koil pengapian yang diperlukan menjadi lebih tinggi.
Celah/gap busi yang terlalu besar juga mengakibatkan kebutuhan tegangan untuk me¬loncatkan bunga api lebih tinggi. Jika sistem pengapian tidak dapat memenuhi kebutuhan tsb, mesin mulai hidup ter¬sendat sendat pada beban penuh. Isolator isolator bagian tegangan tinggi cepat rusak karena dibebani tegangan pengapian yang luar biasa tingginya. Mesin akan sulit dihidupkan.
Elektroda busi yang aus, berarti celahnya bertambah, loncatan bunga api menjadi lebih sulit juga akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian.
Sedangkan celah/gap elektroda busi yang terlalu kecil, mengakibatkan loncatan api menjadi lemah/kecil dan Elektroda cepat kotor, khusus pada mesin 2tak.



3. Tekanan Kompressi 
Bila tekanan kompresi lebih tinggi, maka bunga apipun akan menjadi semakin sulit untuk meloncat dan tegangan yang dibutuhkan semakin tinggi, hal inu juga terjadi pada saat beban berat dan kendaraan bejalan lambat dengan kecepatan rendah dan katup gas terbuka penuh, (misalnya kendaraan dalam keadaan menanjak).

Ledakan tekanan pembakaran campuran bensin-udara akibat loncatan bunga api pada busi disebut pembakaran, sedangkan pembakaran itu tidak terjadi bersamaan pada saat busi meloncatkan bunga api.
Pada waktu loncatan bunga api terjadi, maka titik bunga api mengaktifkan pembakaran molekul campuran bensin-udara dan merambat kesemua arah yang akan menimbulkan tekanan pembakaran.

Cepat perambatan api ini akan tertahan oleh suhu elektroda busi yang cukup rendah dan suhu elektroda yang rendah juga akan menyerap panas dan cenderung memadamkan rambatan api yang sebelumnya sudah mulai menyala, oleh karena itu diperlukan titik nyala api yang cukup kuat agar dapat mempertahan rambatan api pada campuran bensin-udara.
Bila titik loncatan bunga api terlalu kecil, tidak akan mampu membakar campuran bensin-udara, akibatnya terjadi kesalahan pembakaran.

Tingkat Panas Busi

Tingkat panas dari suatu busi adalah jumlah panas yang dapat salurkan/dibuang oleh busi.
Busi yang dapat menyalurkan/membuang panas lebih banyak disebut busi dingin, karena busi itu selalu dingin, sedangkan busi yang lebih sedikit menyalurkan panas disebut busi panas, karena busi itu sendiri tetap panas.

Pada busi terdapat kode abjad dan angka yang menerangkan struktur busi, karakter busi dan lain lain. Kode¬-kode tersebut berbeda beda tergantung pada pabrik pembuatnya, tetapi biasanya semakin besar nomomya menunjukkan semakin besar tingkat penyebaran panas; artinya busi makin dingin. Dan semakin kecil nomornya busi semakin panas.

Batas suhu operasional terendah dari busi disebut dengan self cleaning temperature (busi mencapai suhu membersihkan dengan sendirinya), sedangkan batas suhu tertinggi disebut dengan istilah pre ignition, dimana busi akan dapat menyalakan campuran bensin-udara dengan sendirinya tanpa meloncatkan bunga api (busi terlalu panas sehingga dapat membakar campuran dengan sendirinya).

Busi dapat bekerja dengan baik bila suhu elektroda tengahnya sekitar 450 sampai 950 derajat C
Busi yang ideal adalah busi yang mempunyai karakteristik yang dapat beradaptasi terhadap semua kondisi operasional mesin mulai dari kecepatan rendah sampai kecepatan tinggi.

Bila temperatur elektroda tengah kurang dari 450 derajat C, maka akan terbentuk karbon oleh pembakaran campuran bensin-udara yang tidak sempuma dan akan melekat pada permukaan isolasi porselin busi, sehingga menurunkan tahanan/resistance dengan rumahnya, akibatnya, tegangan tinggi yang diberikan ke elektroda tengah akan menuju ke massa tanpa meloncat dalam bentuk bunga api pada celah eleklroda, sehingga mengakibatkan tarjadinya kesalahan pembakaran.

Untuk pembakaran yang sempurna dibutuhkan temperatur 450 derajat C atau lebih.
Pada suhu tersebut karbon pada insulator akan terbakar habis. Temperatur ini disebut self cleaning temperature (suhu busi dapat bersih dengan sendirinya)

Bila suhu elektroda tengah melebihi 950 derajat C, maka elektroda busi akan menjadi sumber panas yang dapat membakar campuran bahan bakar tanpa adanya bunga api, hal ini disebut dengan istilah pre ignition, jika terjadi pre ignition, maka daya mesin akan turun, karena waktu pengapian tidak lepat, bisa mengakibatkan elektrroda busi atau bahkan piston menjadi retak, leleh sebagian atau bahkan lumer, oleh sebab itu temperatur elektroda harus dipertahankan di bawah 950 derajat C.

Busi dingin mempunyai insulator yang lebih pendek, karena permukaan penampang yang berhubungan dengan api sangat kecil sehingga rute penyebaran panasnya lebih pendek, jadi penyebaran panasnya sangat baik dan suhu elektroda tengah tidak naik terlalu tinggi, oleh sebab itu jika dipakai busi dingin pre ignition lebih sulit terjadi.

Sebaliknya karena busi panas mempunyai insulator bagian bawah yang lebih panjang, maka luas permukaan yang berhubungan dengan api lebih besar, rute penyebaran panas lebih panjang, akibatnya temperatur elektroda tengah naik cukup tinggi dan self cleaning temperature dapat dicapai lebih cepat, meskipun pada kecepatan yang rendah dibandingkan dengan busi dingin.


Service AC Mobil Daihatsu Evalia di Jakarta | Langkah kerja dalam merawat sistem pengapian


Langkah kerja atau hal-hal yang dilakukan dalam perawatan sistem pengapian konvensional adalah sebagai berikut:
  1. Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian.
  2. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi.
  3. Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi.
  4. Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor.
  5. Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer.
  6. Memeriksa koil pengapian.
  7. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell.
Berikut akan dijelaskan satu persatu dari ketujuh langkah kerja dalam perawatan sistem pengapian konvensional.
A) Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian
Memeriksa Secara Visual Komponen Sistem Pengapian

Pemeriksaan secara visual meliputi hal-hal berikut:
  • Memeriksa jumlah elektrolit baterai (kurang atau tidak), Memeriksa sambungan terminal baterai (kotor atau tidak), Memeriksa kondisi kabel baterai dari kemungkinan putus atau terbakar.
  • Memeriksa koil pengapian dari kemungkinan terminalnya kotor, kabel kendor, putus, terbakar atau bodi retak.
  • Memeriksa distributor dari kemungkinan retak, kotor, terminal aus dan pemasangan kurang baik.
  • Memeriksa kabel busi dari kemungkinan atau pemasangan kurang tepat.
B) Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  • Lepas kabel tegangan tinggi yang menempel dibusi, catat urutan kabel yang dilepas agar urutan pengapian tidak salah, karena kabel busi harus dipasang sesuai dengan urutan pengapian atau firing order (FO) yang benar.
Cara Melepas Kabel Tegangan Tinggi yang Benar
  • Lepas busi satu persatu, periksa bagaimana warna dan deposit karbon pada rongga busi, kondisi elektroda dan masukkan busi pada nampan yang berisi bensin.
  • Bersihkan rongga busi menggunakan sikat dan bersihkan elektroda busi dengan amplas. Perhatian: Jangan membersihkan kotoran pada rongga busi dengan benda keras, seperti obeng kecil atau kawat karena dikhawatirkann isolator porselin menjadi retak sehingga busi mati.
  • setel celah elektroda busi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan kendaraan.
Mengukur Celah Busi, Menyetel Celah Busi dan Membersihkan Busi
  • Pasang kembali busi pada silinder. Pemasangan yang benar adalah memutar busi dengan tenaga ringan, setelah ulir habis mengencangkan 1/4 putaran dengan kunci busi.
Saat kita melakukan pengujian busi di luar silinder, kita dapat menyimpulkan busi masih baik, namun terdapat kemungkinan saat di dalam silinder busi mati karena busi bekerja pada tekanan lebih tinggi, sehingga kesimpulan kita salah, untuk mengatasi hal tersebut dibuat Spark plug cleaner and tester.

Cara menggunakan spark plug cleaner tester adalah sebagai berikut:
Membersihkan busi dengan spark plug cleaner tester
  1. Pasang busi yang akan dibersihkan pada lubang pembersih (3), tekan tombol udara untuk membersihkan kotoran yang menempel.
  2. Tekan tombol pasir pembersih sehingga pasir pembersih akan menyemprot rongga busi (atur tekanan 3-4 kg/cm2, waktu 3-4 detik).
  3. Ulangi langkah 1. dan 2. diatas sampai busi bersih. Setelah busi bersih maka tekan tombol udara (1) agar pasir yang masih menempel dapat bersih.
Spark Plug Cleaner tester

Memeriksa busi menggunakan spark plug cleaner tester
  1. Pasang busi pada lubang tempat pemeriksaan, bila diameter lubang dengan busi tidak tepat ganti ukuran lubang (diameter lubang yang tersedia untuk ukuran busi 10mm, 12mm dan 14mm).
  2. Tekan tombol spark test, dan lihat apakah terdapat percikan api pada celah jarum, yang dapat dilihat pada kaca pandang (9) dan (10), bila ada berarti alat berfungsi.
  3. Pasang kabel tegangan tinggi pada terminal busi.
  4. Tekan tombol spark test (6), pada beberapa kondisi tekanan, seperti ditunjukan tabel di bawah ini.
Tekanan yang digunakan
Hasil pengujian yang seharusnya
Tekanan 2-3 kg/cm2
Terjadi percikan api pada kaca pandang (9)
Tekanan 3-4 kg/cm2
Terjadi percikan pada kaca pandang (9) dan (10)
Tekanan 5 kg/cm2
Terjadi percikan pada kaca pandang (10)
Tekanan 2-3 kg/cm2
Terjadi percikan api pada kaca pandang (10) saja berarti busi sudah jelek
  

C) Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi
  1.  Lepas kabel tegangan tinggi, bersihkan ujung kabel dari kemungkinan ada karat menggunakan amplas.
  2. Periksa tahanan kabel menggunakan ohm meter (multi meter bagian ohm, posisi selektor pada 1xK), tahanan kabel harus kurang dari 25 kilo ohm.
Mengukur Tahanan Kabel Tegangan Tinggi/Kabel Busi
Hal yang harus diperhatikan: jangan menekuk atau menarik kabel berlebihan sebab dapat merusak kabel tegangan tinggi.



D) Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor
  1. Lepas tutup distributor dengan melepas kait penguncinya.
  2. Periksa tutup distributor dari kemungkinan retak, karat/kotor pada terminal tegangan tinggi.
  3. Bersihkan terminal tegangan tinggi dengan amplas.
  4. Lepas rotor, bersihkan karat/deposit pada ujung rotor menggunakan amplas.
E) Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer
  1. Periksa permukaan poros nok dari kemungkinan aus, keausan secara visual dapat dilihat dari banyaknya goresan pada nok. Lumasi poros menggunakan grease.
  2. Periksa kerja centrifugal advancer dengan cara: Pasang kembali rotor yang telah dibersihkan, putar rotor searah putaran rotor saat mesin hidup. Lepas rotor maka rotor harus segera kembali. Kekocakkan rotor saat diputar tidak boleh berlebihan.
  3. Periksa vacum advancer dengan cara: lepas slang vacum, hubungkan ke pompa vacum, lakukan pemompaan, amati dudukan platina (breaker plate) harus bergerak. Bila tidak mempunyai pompa vacum dapat dengan cara dihisap dengan kuat.
Memeriksa Centrifugal Advancer dan Vacum Advancer

F) Memeriksa koil Pengapian
Langkah-langkah dalam memeriksa koil pengapian yaitu:
  • Atur selektor multi meter kearah X1ohm, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan jarum tepat pada 0 ohm, bila penyetelan tidak tercapai periksa/ganti baterai multi meter.
  • Periksa tahanan resistor dengan menghubungkan colok ukur pada kedua resistor. Nilai tahanan resistor seharusnya 1,3-1,5 ohm. Pada koil pengapian jenis internal resistor, pengukuran resistor dengan menghubungkan colok ukur pada terminal (B) dan terminal (+).
Memeriksa Tahanan Resistor dan Kebocoran ke Bodi
  • Periksa tahanan primer koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal (-) koil. Nilai tahanan seharusnya 1,3-1,6 ohm.
Memeriksa Tahanan Primer Koil dan Sekunder Koil
  • Atur selektor pada posisi 1XK, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan tepat pada 0 ohm.
  • Periksa tahanan sekunder koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal tinggi koil. Nilai tahanan 10-15 kilo ohm.
  • Periksa kebocoran atau hubungan singkat dengan cara menghubungkan (+) koil dengan bodi. Tahanan harus menunjukan tak hingga.
G) Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell
Menyetel celah platina dan sudut dwell merupakan pekerjaan yang sama.
Perbedaan antara menyetel sudut dwell dengan menyetel celah platina adalah:
  • Menyetel sudut dwell menggunakan alat dwell tester untuk mengukur lama platina menutup. Pengukuran dilakukan dengan alat ukur elektrik, hasil pengukuran lebih akurat tapi harga alat mahal.
  • Menyetel celah platina menggunakan alat feeler gauge, untuk mengukur celah platina sebagai indikator lama atau sudut platina membuka. Hasil pengukuran kurang akurat, tetapi harga alat 1/1000 dari harga alat dwell tester.
  • Bila celah platina besar maka sudut dwell kecil, dan sebaliknya bila celah platina kecil maka sudut dwell menjadi besar.

Langkah menyetel celah platina
Langkah-langkah dalam penyetelan celah platina yaitu sebagai berikut:
  • Putar puli poros engkol sampai rubbing block pada puncak nok atau platina membuka maksimal.
  • Periksa kondisi permukaan platina dari kemungkinan aus, terbakar, kontak yang tidak tepat. Bila terjadi keausan platina, lepas platina dengan melepas sekerup pengikatnya. Amplas permukaan platina sampai keausan hilang, periksa ketepatan kontak permukaannya. Membersihkan platina juga dapat dilakukan langsung tanpa harus melepas dari dudukannya, namun dengan cara ini hasilnya sering menyebabkan permukaan kontak tidak tepat atau adanya serpihan amplas tertinggal dipermukaan kontak sehingga saat platina menutup tidak ada aliran listrik akibat terganjal oleh serpihan amplas.
Menyetel Celah Platina
  • Pasang kembali platina, geser penyetelan platina sampai platina membuka 0,40-0,50 mm, kencangkan sekerup pengikat namun platina masih dapat digeser.
  • Setel celah platina dengan cara menyisipkan feeler gauge ukuran 0,40-0,50 mm, bila feeler tidak dapat masuk berarti celah terlalu kecil, dan sebaliknya. Letakan obeng (-) pada tempat penyetelan putar obeng searah jarum jam untuk memperbesar celah dan sebaliknya. Kencangkan sekerup pengikat agar celah tidak berubah.
Beberapa kendaraan menggunakan celah rubbing block sebagai spesifikasi menyetel celah platina. Cara penyetelan kedua model tersebut sama, namun bila spesifikasi kendaraan menentukan celah rubbing block kita setel celah platina hasilnya dapat berbeda, untuk itu ikuti petunjuk yang diberikan produsen kendaraan.
Kelebihan penyetelan celah pada rubbing block adalah permukaan kontak platina tidak kotor oleh minyak pada feeler gauge, adanya minyak pada permukaan kontak menyebabkan oksidasi pada permukaan kontak lebih cepat sehingga usia platina lebih pendek.

Cara menyetel sudut dwell
Cara menyetel sudut dwell dengan dwell tester yaitu:
  • Pasang dwell tester sesuai petunjuk alat, untuk model 2 kabel maka kabel merah dihubungkan terminal distributor atau (-) koil pengapian, kabel hitam dihubungkan ke massa.
Pemasangan dwell Tester
  • Hidupkan mesin, lihat besar sudut dwell yang ditunjukan oleh alat ukur. Pada mesin 4 silinder spesifikasi sudut dwell sebesar 52+2 derajat.
  • Bila sudut dwell terlalu besar, berarti celah platina terlalu sempit. Matikan mesin, buka tutup distributor, kendorkan mur pengikat platina, setel sudut dwell dengan menggeser dudukan platina kearah celah platina yang lebih besar.
  • Pasang kembali tutup distributor, hidupkan mesin, periksa apakah hasil penyetelan sudut dwell telah tepat. Ulangi bila hasil penyetelan belum tepat.